Kisah Kolektor Sepeda Tua di event “de Oude Fiets” 116 Tahun Sepeda di Indonesia (1895-2011)

JAKARTA – Gelaran pameran sepeda kuno di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) bertajuk ‘De Oude Fiets: 116 Tahun Sepeda Mewarnai Indonesia’, 12-16 Juli 2011, tidak hanya memberi bentuk nyata tentang berbagai ragam sepeda yang penuh historis, karena rata-rata berusia hampir seabad.

Tak kalah unik dan menarik adalah bagaimana sang pemilik mendapatkan sepeda yang tergolong langka, terutama di jenis premiums seperti Sunbeam, Fongers dan Gazelle.

Para kolektor memang harus berjuang keras mendapatkan apa yang mereka incar, plus segi keberuntungan yang tidak terlepaskan begitu saja. Maklum, bagi seluruh orang yang berstatus kolektor, unsur keberuntungan plus jodoh adalah hal yang tak bisa dipungkiri. Kombinasi keduanya menjadi krusial.

Anda bisa bayangkan, bisa saja seorang kolektor yang sedang duduk di sebuah warung tenda tiba-tiba ada sepeda jenis kuno mampir, dan saat itu langsung mau dibeli.

Di sisi lain, tak jarang ada kolektor yang sudah menyiapkan puluhan atau ratusan juta rupiah, tapi sang pemilik sepeda enggan melepas.

Jadi keberuntungan dan jodoh menjadi unsur pertama, selain tentu saja kemauan untuk bekerja keras mendapatkan apa yang dimaui alias bersedia untuk bergerilya atau memanfaatkan jasa hunter,” ungkap Ichwan Alex Setiawan, Kabid  Usaha Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI).

Seni dan estetika perburuan itu pula yang membuat Rahardi, seorang kolektor, bersedia untuk berjuang mati-matian mendapatkan sepeda impiannya, Sintesi. Baginya, sepeda buatan Italia tahun 1920 sangat istimewa, cantik, dan seksi.  Hanya segelintir orang Indonesia yang punya sepeda jenis ini.

“Sintesi itu satu sepeda andalan saya. Ia mencerminkan sebuah perbedaan karena terbuat dari plat, awalnya memang saya ragu karena sepeda kok plat. Tapi setelah mendapat referensi dari seorang ahli sepeda dari Belanda, saya yakin Sintesi itu sangat luar biasa,” jelasnya.

Sintesi merupakan sepeda corak titik orgonomis yang dibuat sangat teliti. Bagian rangkanya tidak sama dengan kebanyakan sepeda, karena unsur jok alias tempat duduk menggantung dan tertopang pada satu plat, sehingga sang penunggang seolah-seolah berdiri tepat di atas roda belakang, sehingga menthal-menthul alias naik turun bak menikmati shokbreker andal.

Sepeda Sintesi (courtesy:sepeda.wordpress.com, pict:Heru Pramono)

 

Sepeda ini memiliki frame kotak, lalu remnya juga terbalik, artinya tidak terpisah dengan stang.

Pria yang berprofesi sebagai ilustrator di sebuah surat kabar nasional tersebut mengakui, perjuangan untuk mendapatkan Sintesi Italia sangat berat dan membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.

Ia harus merayu sang pemilik, asal Sidoarjo, selama dua tahun terus-menerus untuk meyakinkan kalau dirinya akan merawat dengan baik sepeda itu.

“Pada satu titik, si pemilik sudah pernah bilang kalau label sepeda ini adalah not for sale. Jelas saya sedikit shock juga karena sepeda itu benar-benar sudah ada di angan-angan. Tapi saya tak menyerah, dan hasilnya positif. Rasanya waktu dua tahun itu bisa terbayar puas,” tutur Rahardi, yang kini makin bangga dengan Sintesi karena pernah memeroleh gelar The Best Verende.

Tak hanya Sintesi, perburuan menarik dirasakannya saat mengejar sepeda jenis Cross Frame, yang di zaman dulu berfungsi sebagai sepeda transport alias logistik. Ia mendapatkan sepeda itu pada tahun 2006, setelah bolak-balik dari tempatnya kerja di Surabaya ke Kebumen, dalam tujuh bulan!. Ia mendapatkan sepeda jenis itu dari seorang pedagang kelapa. Proses pendekatan tidak hanya kepada sang pemilik, tetapi juga istri si empunya sepeda.

Rem tangan pada sepeda Sintesi (courtesy:sepeda.wordpress.com, pict:Heru Pramono)

 

“Saat suaminya sudah setuju, giliran istrinya yang tak ingin menjual sepeda itu. Saya harus mengeluarkan seluruh jurus diplomasi untuk mendapatkan itu, dalam hatiku, apa pun akan dilakukan untuk mendapatkan sepeda itu. Saya bersyukur, karena model cross frame itu bisa saya bawa ke Surabaya setelah tujuh bulan,” kata Rahardi, yang enggan menyebut besaran nominal harga ‘sang sepeda’ unik dan langka, karena di Indonesia hanya ada 10 biji.

Model Cross Frame sendiri adalah jenis rangka yang terbuat dari besi dengan alur besi bersilangan, yang membuat chasisnya sangat kuat. Bisa menopang banyak beban, dengan bagian depan ada ‘dudukan’ khusus untuk keranjang, yang berfungsi untuk menempatkan barang bawaan. Di Eropa, jenis ini biasanya digunakan untuk pengantar bunga.

Rahardi mengaku memiliki sembilan koleksi sepeda unik dan langka. Selain jenis cross frame dan sintesi, ia juga punya Phonomen asal Jerman buatan tahun 1935, Crescemt produksi tahun 1890, Colombia tahun 1894, Durkopp dengan chaless atawa sepeda bergardan, plus tiga jenis Gazelle, yang satu di antaranya bernomor rangka 5, yang didapat tak sengaja di sebuah warung depan kantor tempatnya bekerja.

Cerita lain datang dari Iwan. Ia mendapatkan sepeda langka Falter produksi Jerman tahun 1950 dengan sangat beruntung. Awalnya, Falter berwarna hitam itu milik seseorang yang ingin menjual motor Harley Davidson. Pemilik HD menjanjikan pada temannya, jika bisa menjual motor itu, hadiahnya sepeda Falter. Setelah berhasil menjual, si sepeda ‘tukang pos’ tersebut berpindah tangan.

Keberuntungan datang saat Iwan ditawari untuk membeli sepeda langka di Indonesia itu. Walhasil, harga Rp 7 juta tak menjadi masalah besar, dibandingkan dengan nilai sejarah dan keunikan sang sepeda.

Saking bahagianya, Iwan memberi banyak ornamen asli untuk sepeda yang kini berharga lebih dari Rp 20 juta itu.

“Asyiknya adalah mencari onderdil alias klithikan. Di sana seni bermain, karena kadangkala kita bertemu dengan teman-teman yang bisa bertukar pikiran. Kalau beruntung, kita bisa mendapatkan harga bagus untuk sebuah sepeda. Minimal, kami bisa berbagi tentang sepeda-sepeda antik dan unik di Indonesia,” tuturnya.

Pemilik sepeda kuno harus memiliki ketelatenan luar biasa. Hal ini terkait dengan pemeliharaan yang tak bisa sembarangan. Mengerok cat asli adalah langkah awal yang tak boleh dilakukan. “Paling menarik energi adalah saat baru membeli, terutama kala sepeda dalam kondisi tidak  sempurna.

Saat mendapatkan Sintesi, butuh waktu 1,5 tahun agar bisa menikmati kehebatannya. Setelah itu, perawatannya standar, paling sebulan sekali dibersihkan, atau kalau tidak pernah dipakai, lebih baik digantung,” beber Rahardi.

Tidak sembarang yang layak dikoleksi. Bagi para kolektor, ada dua syarat utama sebuah sepeda layak berstatus langka dan unik. Pertama, dari sisi desain fisik sudah menyiratkan zaman baheula, plus konstruksi rangka sangat kuat karena memang saat diproduksi dulu bertujuan jangka panjang, selain tentu saja nilai seninya yang tinggi. “Kedua, pabriknya sudah tidak ada. Bagi saya, kriteria kedua ini yang menjadi acuan,” tukas Rahardi. (tribunnews)

*****

(((SpedaOntel.wordpress.com)))

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Event Acara, Info dan Berita. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kisah Kolektor Sepeda Tua di event “de Oude Fiets” 116 Tahun Sepeda di Indonesia (1895-2011)

  1. trimbil di minggir berkata:

    mantap… sekali lagi….. mantappppppp…..

  2. kang Djono KONIS berkata:

    sayangnya aku nggak berduit, jadi koleksi saya hanya 1 pun harganya dibawah 1jt…tp yg penting kan nggowesnya ya mas…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s