Randy, Petualang Onthel Sejati

Melihat perawakan Randi, pria berkulit gelap, dengan rambut panjang terurai dan mulai memutih serta bagian gigi depannya terlihat ompong, tak akan susah untuk menebak usia pria ini.

Penampakan fisiknya memang menunjukkan usianya yang hampir menginjak setengah abad. Tetapi mana sangka, meski saat ini usianya 47 tahun, namun fisiknya boleh dikatakan masih kuat dibandingkan orang-orang seusianya.

Bagamana tidak, hingga usianya kini Randi tetap eksis melakukan perjalanan bersepeda, dari kota ke kota menggunakan sepeda onthel kesayangannya.

Kecintaan terhadap sepeda onthel atau sepeda tua telah ia lakoni sejak duduk di bangku sekolah menangah pertama. Pria kelahiran Sleman, Yogyakarta, ini menggunakan sepeda onthel untuk perjalanan ke sekolah yang berjarak lima kilometer dari rumahnya di Cangkringan.

“Dulu waktu SMP setiap hari naik sepeda onthel lima kilometer selama tiga tahun. STM naik onthel dari Cangkringan sampai Pakem tiap hari sepuluh kilometer,’ ujarnya.

Kebiasaan bersepeda inilah yang akhirnya mengilhami bapak tiga anak ini melakukan petualangan perjalanan bersepeda menjelajahi kota-kota di Indonesia. Perjalanan panjang Randi dengan sepeda onthel yang pertama kali ia lakukan saat lulus dari STM. saat itu ia bernadar, jika lulus STM akan bersepeda ke Jakarta.

Ternyata Tuhan mengabulkan keinginannya. Randi lulus dari STM. Ia bersama dua temannya kemudian melakukan perjalanan bersepeda ke Jakarta tahun 1986. Tak berhenti di situ, Randi kembali melakukan perjalanan bersepeda onthel. Kali ini adalah perjalanan terbesarnya. Bagaimana tidak, di tahun 1988 ia mengelilingi Indonesia sendirian selama tiga tahun empat bulan.

“Tiga puluh Oktober tahun delapan delapan, jam sepuluh lebih tiga belas menit, hujan turun rintik-rintik, saya dilepas oleh Kasospol gubernuran Yogyakarta yang kantornya di Kepatihan,” ujarnya.

Perjalanan selama tiga tahun empat bulan ini bukan tanpa getir. Pernah di Bulan Juni 1989 saat perjalanan bersepedanya tiba di Banda Neira, ia mengaku kehabisan bekal.

“Uang saya saat itu tinggal Rp 1.700 di Banda Neira. Dari Banda Neira saya ke Ambon berharap mendapat bantuan di sana, tapi ternyata tidak. Selama empat hari saya tidak makan. Sampai akhirnya bertemu orang Jawa dari Surabaya. Baru dia kasih bantuan dan saya bisa makan. Saya masih ingat, namanya Pak Kasdi,” ujarnya.

Perjalanan keliling Indonesia ini pula yang kemudian memperkenalkan dirinya dengan Eka Astuti, perempuan yang juga melakukan perjalanan keliling Indonesia. Bedanya Ia keliling dengan jalan kaki. Kesamaan hobi berpetualang akhirnya mempertautkan hati mereka saat bertemu di sebuah kesempatan di Yogyakarta pada tahun 1990.

Eka Astutilah yang saat ini tetap setia mendampingi hidupnya dan menjadi ibu dari tiga anaknya. Setelah menikah dengan Eka, Randi memutuskan untuk tinggal di Jakarta. Meski begitu, perjalanan ke beberapa kota hingga saat ini tetap ia lakukan dengan sepeda onthel Fongers buatan Inggris kesayangannya.

Terakhir sebelum bergabung dengan Tim Ekspedisi 200 Tahun Jalan Pos, Anyer Panarukan, ia sempat bersepeda dengan ke lima temannya dari Komunitas Ontel Batavia (KOBA) ke Semarang. “Baru minggu lalu saya pulang bersepeda dari Semarang,” ujarnya.

Meski dalam ekspedisi ini ia tidak di temani sepeda onthel kesayangannya, namun tekatnya untuk finish di Panarukan sungguh besar. “Biar di belakang terus enggak papa yang penting bisa finish sampai Panarukan,” ujarnya.

(Kompas)

Fenomena Rendi Sang Onthelis

RAMBUT gondrong sepundak dibiarkan keriting terurai ketika pedalnya terus mengayuh tanjakan demi tanjakan di jalur yang dilintasi tim Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta. Cuma sesekali rambutnya dia ikat dan dibalut ke dagu seperti membentuk cambang lebat.

Begitulah gaya nyentrik Andi Surandi atau biasa disapa Rendi. Dia merupakan salah seorang dari kalangan komunitas pesepeda, yaitu dari Komunitas Onthel Batavia (Koba) Jakarta, yang menjadi anggota tim jelajah memeriahkan HUT ke-45 Harian Kompas.

Siapa yang tidak kenal lelaki berusia 50 tahun ini. Hampir di tiap kota yang disinggahi tim jelajah, para pesepeda dari komunitas onthel setempat selalu mengenal ayah tiga anak ini dengan akrab.

Para pesepeda mengenal Rendi sebagai onthelis yang fenomenal. Berawal ketika dia berkeliling Indonesia seorang diri menggunakan sepeda onthel pada 1988 silam yang dimulai dari Yogyakarta menuju kawasan timur ke Bali, Lombok, Menyeberang ke Sulawesi, Maluku, Papua lalu ia ke Kalimantan dan Sumatera.

Atas biaya sendiri dia menjelajah nusantara selama tiga tahun empat bulan. Untuk menghidupi diri sendiri selama perjalanan, dia membuat kalung dan plat nama yang dia jual di tiap kota yang disinggahi.

“Saya paling lama berada di Papua karena orang sana banyak beli barang dagangan saya, tapi ketika saya di Ambon sempat kehabisan uang dan selama empat hari gak bisa makan. Akhirnya saya kerja di bengkel untuk bisa hidup dan melanjutkan perjalanan ke Timor Timur,” katanya.

Lalu, aksi yang menghebohkan lainnya yaitu ketika dia mengenakan koteka (alat penutup bagian bawah dari Papua) di acara sepeda onthel gembira memeriahkan HUT Paskhas di Surabaya pada 1995. Kala itu atas aksi uniknya tersebut dia berhasil menyabet juara pertama.

“Sejak pakai koteka itulah saya sering diundang ke daerah kalau ada acara bersepeda onthel. Kegiatan di Semarang, Bandung dan beberapa kota malah saya juara lagi. Kalau sekarang kadang-kadang saya pakai koteka dan terakhir pas acara di Jakarta yang bikin heboh di Facebook,” ujarnya.

Hijrah ke Jakarta

Rendi kecil saat duduk di bangku SD kelas V hingga remaja bersekolah di STM sudah menggunakan sepeda onthel ke manapun. Waktu itu rutin setiap hari bersepeda sejauh 10 kilometer dari rumahnya di Ngemplak ke sekolah di Cangkringan, Yogyakarta.

Cerita hijrah ke Jakarta berawal saat dia memenuhi janjinya selulus sekolah bersepeda ke Jakarta. “Saya tidak lulus dan mengulang, makanya sekolah STM empat tahun. Waktu itu saya berjanji kalau lulus akan ke Jakarta naik sepeda onthel, akhirnya kesampaian juga,” katanya.

Setelah 12 hari di Jakarta dia pulang ke Yogya bekerja bengkel. Tidak berselang lama, karena tidak betah dia kembali lagi ke Jakarta tapi kali ini dengan menjual sepeda onthel untuk ongkos berangkat.

“Di Jakarta waktu itu saya bekerja jadi kondektur metromini S 64 jurusan Ciledug-Blok M, tapi cuma bertahan empat bulan karena berantem terus dengan sesama kondektur, lalu saya pindah berjualan bakso” ujarnya.

Setelah mendapat pekerjaan yang lebih baik, yaitu jasa servis dan bikin perangkat alumunium serta baja, dia kembali bisa membeli sepeda onthel untuk menunjang kegiatan sehari-hari.

Kini, dia telah memiliki empat sepeda onthel. Belum termasuk sepeda hadiah salah satunya dari Polygon hasil ikut Ekspedisi Anyer-Panarukan yang diselenggarakan Harian Kompas 2008 lalu.

Dengan sepeda itulah kemanapun dia gunakan untuk bekerja maupun berkeliling daerah. “Lebih baik naik sepeda, tidak makan ongkos. Kalau jalan-jalan juga enak naik sepeda bisa lebih mudah tahu banyak daerah dan banyak kenalan,” katanya.

Kini, dia bersama teman-temannya di komunitas pesepeda turut berjuang menuntut pemerintah membuat jalur khusus sepeda di Jakarta. Walaupun pemerintah sempat menanggapi tapi hingga sekarang masih belum ada kejelasan.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Onthelist. Tandai permalink.

5 Balasan ke Randy, Petualang Onthel Sejati

  1. anggun berkata:

    anggun dah baca 🙂

  2. anggun berkata:

    i love you bapak,,,

  3. fixed addict berkata:

    mbah rendy, jangan lupain kami.
    salam goes
    dari fixed addict kotabumi , lampung utara

  4. Everli Erwadi berkata:

    Begitulah Onthelis Sejati,.tgl 30 September kami goes onthel ke Cirebon,Bang Rendy yang di Depan ,saya Nomor dua .saya ikuti Bang Rendy Goes nya nggak berhenti henti ,tanjakan semakin kencang Goes nya….Akhir nya saya memutuskan Istirahat di Warung….
    Walau Usia nya jauh di atas saya…tenaga nya Badak Booooooooooo

  5. Shodiq Triyanto berkata:

    tetap semangat brooo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s