Mbah Pudjo “Profesor” Sadel

Sadel adalah salahsatu yang paling menentukan kenyamanan saat mengendarai sebuah sepeda onthel. Begitulah kata Mbah Pudjo Hartono (76 tahun) yang tinggal di dusun Gading, Donokerto, Turi, Sleman, Jogja.

Mbah Pudjo dilahirkan di Srandakan pada tahun 1934. Pada usia 9 tahun, ia pindah ke Notoprajan, Jogja. Sepeda onthel sebagai sarana transportasi yang sangat vital pada saat itu segera menarik minatnya. Terutama sadel itulah yang menjadi fokus perhatiannya.

Maka, setelah mahir menyetel dan memperbaiki sadel, dengan tekad bulat ia membuka usaha perbaikan sadel di jalan H Agus Salim, di depan ndalem Notoprajan.

Lebih dari 60 tahun ia menekuni kegemarannya sejak kecil, yaitu memperbaiki sadel-sadel yang rusak. Dengan jam terbang selama itu, ia bahkan hapal jenis-jenis sadel dari berbagai merek sepeda onthel yang beredar di Indonesia.

Dengan kemampuannya itu, Mbah Pudjo saat itu segera dikenal luas sebagai spesialis sadel. Pelanggannya tak hanya datang dari seluruh penjuru Jogja, melainkan juga dari Magelang, bahkan Semarang.

Setelah berpuluh tahun tinggal di Jogja, pada tahun 1986 Mbah Pudjo pindah ke dusun Gading, Donotirto, Turi, Sleman, desa tempat asal istrinya.

Dengan pengalaman  lebih dari 60 tahun dan terkenal seantero mata angin, maka layaknya baginya di dunia onthelis dikenal dengan julukan sang Profesor Sadel walau ia lebih dikenal dengan julukan Pak Pudjo Sadel.

Meskipun begitu, setiap akan menjawab pertanyaan seputar sadel ia masih merendah dengan mengatakan bahwa ia akan menjawab dan melayani permintaan “sakgadug kulo” (semampu saya).

Filosofi Mbah Pudjo tentang sadel sangat unik, yaitu bagaimana membuat sadel itu tampak keras ketika dilihat, tetapi terasa empuk saat diduduki. Untuk mewujudkan prinsipnya tersebut, Mbah Pudjo hanya percaya pada rangka sadel lama yang terbukti kokoh. Sedangkan untuk kulitnya, ia hanya mau menggunakan kulit sapi pilihan.

Kulit lembu setunggal, biasanipun namung kulo pendhet kangge 6 sadel” (kulit seekor sapi biasanya hanya saya ambil untuk 6 sadel saja), katanya. Itu bisa terjadi karena Mbah Pudjo hanya mau bagian tepong/pantatnya saja. Di bagian itu, kulitnya lebih tebal dan ketebalannya pun rata.

Pelanggan biasanya datang kepada Mbah Pudjo dengan berbagai permintaan, mulai sekedar meluruskan kerangka dan mengencangkan tarikan kulitnya, mengganti kulit baru, memperbaiki kulit asli/lama yang sobek dengan cara merangkapkan kulit baru (di-press) di bagian dalamnya, hingga merekonstruksi sebuah sadel agar sesuai bawaan original merek sepedanya.

Di usia yang tidak muda lagi, Mbah Pudjo masih terus menangani perbaikan sadel. Nyatanya, beberapa pelanggan pun tetap mencarinya untuk memesan sadel-sadel yang berkualitas baik.

Mbah Pudjo mengerjakan semua itu di halaman rumahnya yang setiap saat siap disulap menjadi bengkel. Bahkan, jika hari hujan, ia cukup mengerjakannya di dalam rumah saja.

Berdasarkan pengamatannya atas berbagai sepeda sejak zaman Jepang, Mbah Pudjo masih terkesan bagaimana dahulu sepeda Humber dan Raleigh tampil begitu gagah dengan sadel Tery yang lebar.

Sementara sadel Simplex Cycloide heren pun tampil kokoh dengan baut ganda yang mengunci 4 kawat rangka (yang menghubungkan antara per depan dengan per belakang) pada ancernya.

Ia juga menunjukkan sebuah sadel Fongers yang bahkan hanya menggunakan dua kawat rangka. Dengan cepat pula ia mampu mengenali sadel sepeda Batavus, antara lain hanya dari bautnya yang dipasang terbalik. Begitu juga dengan rangka sepeda Gazelle, baik yang tua, dengan baut dobel di gelung/per depannya, maupun versi yang lebih muda dengan satu baut saja.

Mbah Pudjo bercerita bahwa selama menjalankan profesi mereparasi sadel itu, ia pernah mengalami sebuah peristiwa unik. Suatu hari, ia kedatangan seseorang yang memintanya mereparasi sebuah sadel. Bersama sadel itu masih terbawa pula ancernya.

Ancer adalah pipa yang menjadi dudukan sadel. Setelah orang itu pergi, sebelum mereparasi, Mbah Pudjo melepaskan ancer dari sadelnya. Di dalam pipa ancer itu terdapat segulungan kertas yang ternyata selembar kuitansi pembelian sepeda. Ada sepercik bekas darah menodai kuitansi tersebut.

Tak berapa lama, datanglah pelanggan lain. Setelah mengobrol beberapa lama, pelanggan itu merasa tertarik dengan kuitansi bernoda darah tersebut, apalagi sama persis diletakkan di dalam ancher sepeda mirip kepunyaannya.

Ia pun hapal betul dengan kuitansi sepeda miliknya, apa lagi dengan adanya bekas darah itu. Ternyata sepeda dia itu hilang dicuri orang! dan ciri sadel serta kwitansi cocok.

Akhirnya, pelanggan itu datang lagi saat sadel dijanjikan akan diambil. Singkat cerita, pelanggan itu akhirnya bisa mendapatkan kembali sepeda miliknya.!

Namung, sadel damelan kulo awis lho Mas. Awit kulo mboten namung sadean sadel. Kulo sadean tiyang. Nggih sing namine Pudjo niki” (hanya saja sadel buatan saya mahal lho Mas. Karena saya bukan cuma menjual sadel. Saya menjual orang. Ya yang namanya Pudjo ini!).

Agaknya Mbah Pudjo sedang membisikkan semacam garansi, bahwa dia tidak ingin mengecewakan pelanggan yang memang membutuhkan sadel yang tepat dan berkualitas untuk sepeda kesayangan…. (Opoto)

SpedaOntel.wordpress.com

Pos ini dipublikasikan di Kisah Onthelist. Tandai permalink.

2 Balasan ke Mbah Pudjo “Profesor” Sadel

  1. zainist berkata:

    berapaan harganya mas?

  2. sudariysnto berkata:

    Salam kenal mbah pujo ,aku ontelis nganju ingin punya sade sepda buat sepeda siplek saya cara hubungin gimana ya mbah pujo………trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s