Berbagi Cerita: Bersepeda dari Pati ke Depok karena diterima di Universitas Indonesia

Muhammad Zalaludduin Sofan Fitri (19), remaja lulusan SMAN 1 Pati yang lahir pada 4 April 1992, pesimis dirinya diterima di jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI), yang merupakan pilihan pertamamya dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Dia pun bernazar, akan bersepeda dari Pati, Jawa Tengah, ke Depok, Jawa Barat, bila diterima di UI. Kini pemuda itu harus menjalani nazarnya lantaran diterima di UI.

“Saya nazar karena pesimistis tidak diterima,” ujar Jalal, panggilan akrabnya, Kamis (21/7/2011).

Remaja 19 tahun itu menuturkan mengapa saat itu dirinya pesimistis. Menurut dia, selama bersekolah di SMA 1 Pati dia mendapat rangking bawah. Namun, nilai Ujian Akhir Nasional (UAN)-nya cukup membanggakan. “Rata-rata 8,8,” imbuhnya.

Ngontel dari Pati ke Depok, kurang lebih berjarak 600 kilometer

Saat SNMPTN, Jalal menjatuhkan pilihan pertamanya di jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya di UI. Sedangkan pilihan keduanya, jurusan Komunikasi, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

“Saya mulai perjalanan ini dari Selasa (19/7) pukul 12.00 WIB dari perbatasan Pati-Kudus,” tutur Jalal yang hari ini sudah sampai Losari, Jawa Barat ini.

Nazar Jalal ini rupanya mendapat dukungan dari guru hingga teman-temannya di SMA 1 Pati. Guru dan teman-temannya pun memberikan bekal dan uang saku sekadarnya. Bagaimana dengan orangtua?

“Orangtua tidak khawatir, mereka malah khawatir kalau saya tidak menjalankan nazar ini. Saya harus tanggung jawab untuk melakukannya,” imbuhnya.

Zalaludduin waktu kecil

Berbekal uang saku sekadarnya dan ransel yang berisi bekal dan alat untuk memperbaiki sepeda, Jalal pun mantap menggowes sepeda onthel bermerk Phoenix tersebut.

Teman-temannya dari Pencinta Alam SMAN 1 Pati pun ramai-ramai mengantarnya sampai Kudus, Jawa Tengah. Selanjutnya, Jalur Pantai Utara (Pantura) pun dilewatinya.

Makan dan tidur selama perjalanan Pati – Depok tak menjadi masalah bagi Jalal. Sebagai seorang pencinta alam, Jalal sudah terbiasa berpetualang sendirian, makan dan tidur di gunung. “Saya sudah sering naik gunung sendirian, di Lawu, Sindoro, Sumbing,” jelas Jalal.

Mengapa dirinya memilih sepeda ketimbang sepeda motor? “Dengan bersepeda saya bisa sambil melihat masyarakat di Pantura. Siapa tahu nanti kalau saya punya kekuatan, saya bisa berbuat banyak,” ucap pemuda kelahiran 4 April 1992 itu.

Di Depok, sulung dari 4 bersaudara pasangan Sutikno Hasan dan Khoiriah ini sudah memiliki tempat tinggal di Asrama Mahasiswa UI, Depok. Dia juga berharap mendapat keringanan biaya kuliah dari kampus barunya itu.

Dia bertekad akan menempuh pendidikan sebaik-baiknya sambil melanjutkan hobinya menjadi pencinta alam. “Masak fokus kuliah saja,” ujar Jalal yang selama 3 tahun menempuh pendidikan di SMA ini gratis karena selalu mendapat beasiswa ini.*

Catatan dan Pengalaman di Perjalanan

Berikut,  Jalal menuliskan dan bercerita  tentang pengalaman dalam perjalanannya di jejaring sosial dan di blognya.

Catatan perjalan ane biar jelas gan hehehe……..

Hari pertama, Kudus – Semarang
Terimakasih kepada teman-teman dan pihak2 yang membantu saya. Dari Kudus menuju Semarang alhamdulillah bertemu dengan beberapa orang2 di pengalaman awal, sempat mendengar keluh kesah bapak Hadi tentang anak-anaknya di sekitar jalan Kudus-Demak.

Kemudian terima kasih kepada bapak Cipto yang telah mentraktir saya di warung bebek, dan baru mengenalnya beberapa saat di jalan, terima kasih kepada mas Samsul juga yang memberikan semangat saat selese maghrib di perbatasan Demak-Semarang, juga terima kasih kepada nenek di dekat warnet Bulu yang memberikan doanya selalu, menunggu perjalanan berikutnya… (http://www.facebook.com/note.php?not…57061257640823)

Hari kedua, Semarang – Pekalongan
Hmmhm…… di pom bensin Kendal, ke arah Cepiring beberapa orang sempat menyapa, dan tak lama kemudian sarapan di dekat kali Kuta Gringsing, sambil menikmati pegunungan (lereng gunung Prahu) setelah itu mengambil jalan ke arah pasar Plelen, jalur paling utara atau jalur yang paling berat. Di sini aku bertemu dengan beberapa orang yang lebih hebat dari ku.

“mbah Parmo dan mbah Keman”, sejenak berjalan letih kurang lebih 300m tanjakan baru separuhnya, dari atas turun mbah Parmo, seorang kakek2 dengan gerobak songkronya yang berisi sapu lidi, karena lelah aku istirahat dan langsung menghampiri kakek yang berusia lebih 70 tahunan.

Zalaludduin ngontel Pati -Depok

Aku menanyakan semua tentang dia, akhirnya dia menceritakan kemana saja, dalam tiga hari dia akan berkeliling dari Limpung-Weleri dan kembali kerumahnya untuk membuat sapu, dan jalan yang dilewati, saya bisa merasakanya hingga bermandikan keringat.

Dari rumah dia membawa 60 sapu lidi dan di jual ke orang2 seharga Rp.3000, dan terkadang ada juga yang menawar. Karena aku sangat menghargainya maka aku membelinya 3 buah, kemudian saya berpamitan denganya.

Perjalanan saya lanjutkan hingga ke pos polisi di Luwes “sebelum Banyu Putih atau setelah tanjakan hutan Roban”. Di sana saya mampir di sebuah warung degan, bertemu dengan mbah Keman, dari penuturan ceritanya dia sudah menjelajah seluk beluk alas Sroban di usianya yang tak muda lagi, dia melakukan itu karena tiak punya rumah dan di usir oleh putranya dari rumah.

Karena merasa haus aku memesan 2 es degan dan minum dengan mbah Keman mendengarkan penuturan2 nya, karena saya juga bingung tentang sapu lidi 3 tadi maka sapu itu aku serahkan ke ibu penjual es degan, dan akhirnya dia mau menerimanya.

Setelah istirahat aku berpamitan dengan mereka berdua dan degan tadi di berikan gratis, juga di bawakan beberapa jajanan untuk diriku dari ibu warung, sekali lagi saya ucapkan terima kasi.

Berikutnya perjalanan dilanjutkan tanjakan ke gunung Prekso “banyu putih” hingga di subah ngenet sambil istirahat sebentar, setelah itu perjalanan di lanjutkan sampe di pom bensin istirahat dan madep sama Sang Pencipta sebentar, di sini bertemu dengan anak Pati dari Kemiri, dan sempat mengobrol, setelah itu berpamitan dan melanjutkan perjlananan hingga ke Batang, di sini di sambut oleh saudara dari temanku Sinta Tc, dan beristirahat sebentar,

Perjalanan selanjutnya di lanjutkan hingga ke Pekalongan. Di Pekalongan para club tiger yang sudah dihubungi oleh kakak kelas saya atau mereka biasa memanggil Broto, di sini berkenalan dengan mereka hingga malam, karena cuaca hujan, aku menunggu terang. (http://www.facebook.com/note.php?not…57901547556794)

Hari ketiga Pekalongan – Cirebon
Setelah berpamitan dengan mas Yuli dan kawan-kawan sehabis hujan segera kembali ku kayuh sepedahku hingga ke pom antara Pekalongan dan Pemalang di sebabkan gerimis lagi. Di pembensin ternyata malah ketemu tetangga dari Ngawen, ha ha ha, dan istirahat.

Pagi habis subuh kembali sepeda ku kayuh hingga melewati kota merk spirtus yang biasa aku pakai untuk masak, dan siangnya sampai di Tegal. Di Tegal aku mau istirahat untuk mencari warnet, karena aku kira bagian jembatan layang di Tegal bagian dari pantura maka aku melewatinya (padahal ga ada mobil yang lewat) ku kira ada kerusakan mungkin sepeda bisa lewat.

Tapi perkiraanku mleset, aku malah sampai di TPA Tegal dan tempat peternakan di dekat TPA, tapi ga masalah karena ternyata jalan tadi adalah jalan yang menuju terminal Tegal. Ternyata Brebes -Tegal 7 km, wah wah gak nyangka sampai Brebes dengan cepat.

Muhammad Zalaludduin ngontel Pati – Depok

Aku mencari warnet di Tegal jarang sekali, yang banyak malah warteg (warung makan touch screen) 4 km dari terminal kemacetan mulai melanda karena ada perbaikan jalan, sejenak istirahat di Berebes sambil di warnet.

Berikutnya setelah jalanan agak lenggang kembali dengan santai sepeda meluncur hingga ke kec. Bulu Kamba, di sini bertemu dengan beberapa pedagang asongan.

Setelah Dzuhur asyik berbincang dengan mereka, karena dirasa cukup dan telah mendapat informasi segera ke arah kec Tanjung.

Sebelum sampai di Tanjung sempat menservis sepedahku. Disini bertemu dengan mas Raja pria kelahiran Sumatra dan ternyata supir yang sering mampir di warung kopi di rumah temenku Bahrul Halimi sehabis memasok ikan dari Tayu ha ha ha. “katanya demen sama kopinya “

Terik matahari mulai menyengat, inilah yang membedakan (Batang-Pekalongan-Pemalang) setiap malam hujan dan banyak air. Brebes (kekeringan) mungkin gara2 ada gunung Selamet yang membawakan uap atau angin dari laut, di Berebes sempet ketemu penjual penthol yang harus mikul dari losari PP setiap hari.

hmm……. padahal panasnya ngeter2 ampun. sorenya sampai di Losari, dan perjalanan di lanjutkan ke arah Cirebon, di tengah perjalanan saat sholat maghrib di pom bertemu dengan pak Syukron dan pak Sukawi dan berbagi pengalaman dengan mereka haha… Malamnya langsung tancap Cirebon dan di alun2 sedang ada pengajian. wes leren2… (http://www.facebook.com/note.php?not…58102437536705)

150 km lagi ke arah Jakarta gan masih perjalanan mampir warnet.. ha ha ha buat pembelajaran, makanya gan ane naik sepeda supaya ada pengalaman yang kayak ginian.

Hari keempat, Cirebon – Pamanukan
Cirebon. hm…… di sini aku melanjutkan perjaanan memasuki kota dan akhirnya sampai di gedung kabupaten, wah wah ternyata di sana lagi ada pengajian. seperti biasa sebelum istirahat saya mencari warnet dan ternyata ada di deket kantor kabupaten. Nginep di sana sekalian, ha ha ha.. untung mas nya baik apa lagi dia suka main AO “hobiku dulu” jadi di kasi mirah woakowkokaokowkoa…

Paginya habis subuh tidur lagi karena capek dan menunggu temen2 dari Kaskus ketua Reg Cirebon, setelah bertemu maka wisata kuliner kembali di mulai dengan mengajak ke tempat nasi asal Cirebon wkakkwkakkw, setelah berpamitan perjalanan kembali kulanjutkan, 7 km dari tempat kami berpisah terletak makam Sunan Gunung Jati.

Dan aku shalat Jum’at di M Karangampel. sebelum shalat Jum’at aku mampir di sebuah pombensin, yang aku heran ternyata para petugas pom besin di sini mereka adalah orang2 intelektual, gila, salahsatunya ada yang bercerita di terima di UGM , tetapi gak di ambil karena ga punya duid.

Dari sana sejenak beristirahat di depan SMK 1 Karangampel, di sini bertemu dengan penjual es di depan sekolah, sejenak bercerita sambil membeli es. ha ha ha ha panas soale, ha ha haha karena penjual es suka mendengar ceritaku maka waktu aku mau bayar dia menggratisi esnya, Alhamdulillah hueheuhue.

Muhammad Zalaludduin Sofan Fitri

Perjalanan dilanjutkan kembali sampai di pertigaan yang satu ke arah Indramayu dan satunya ke arah Jati Barang di sana bertemu dengan siswa yang naik sepeda, hahaha…

Dengan senang aku bicara dengannya dan dia bercerita tentang dirinya. hm…. kemudian aku memberikan pemikiran lain ” jangan bilang doktrin” wkwkwkwk dan dia menyetujuinya huehuehue,

Tetapi aku tetep salut ma dia temen2nya waktu saya liat pada naik motor dia tetep dengan sepedahnya, dan aku memberinya beberapa motivasi. Karena sudah siang maka aku berpamitan denganya.

Perjalanan saya lanjutkan hingga tengah menjelang Ashar saya beristirahat sejenak, saya kok malah menikmati angin pantai dan istirahat sejenak. Berikutnya perjalanan saya lanjutkan sampai di pom sebelum masuk ke komplek pabrik Pertamina di Indramayu pinggir pantai.

Di sana bertemu dengan supir truk, kembali kami berbincang2. Karena supir truk ahli sepeda, maka ia cek sepeda saya dan di benerin, dan saya mengucapkan terima kasih, dan berpamitan.

Selanjutnya perjalanan saya lanjutkan kali ini melewati Indramayu, ketika saya melihat sebuah sunagi, lupa namanya, disana ada bendungan karet malah di pakai buat lompatan oleh anak2 heuehehu gila bener.

Habis itu perjalanan di lanjutkan hingga ke pertemuan jalur Indramayu dan Jati Barang. disini mampir sholat dulu dan melanjutkan ke arah Pamanukan. Sampe di Pamanukan saya istirahat dulu. (http://www.facebook.com/note.php?not…58853077461641)

Hari kelima, Pamanukan – Depok

Sepeda Zalaludduin difoto setelah sampai di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat:

*****

(((SpedaOntel.wordpress.com)))

Pos ini dipublikasikan di Kisah Bersepeda. Tandai permalink.

3 Balasan ke Berbagi Cerita: Bersepeda dari Pati ke Depok karena diterima di Universitas Indonesia

  1. Mochammad berkata:

    Selamat berjuang Jalal. Semoga cita2 luhurmu tercapai…
    🙂 Salam

  2. mas didin berkata:

    selamat berjuang y lal,,,semoga apa yg kamu cita2kan terlaksana…jujur…aku iri akan semangatmu…. aku juga orang pati,, tp belum mempunyai smgt seperti dirimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s