Sambut SEA Games 2011: Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang, Diantara Tim Terdapat Dua Ontelis KOSTI

Sambut SEA Games 2011: Kompas Jelajah Sepeda Jakarta ke Palembang 820 km

Untuk ketiga kali, harian Kompas akan menggelar jelajah sepeda. Kali ini, Kompas akan turing bersepeda dari Jakarta menuju Palembang dengan panjang rute lebih kurang 800 kilometer.

Turing itu digelar untuk mengarahkan perhatian masyarakat ke acara pembukaan SEA Games XXVI di Palembang, Sumatera Selatan. SEA Games kali ini spesial lantaran digelar di dua kota berbeda, yakni Palembang dan Jakarta.

Jelajah ini juga sebagai langkah Kompas untuk mengajak masyarakat mengurangi efek rumah kaca akibat polusi udara serta mengurangi kepadatan kendaraan bermotor.

Rute Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang 2011

Diikuti 52 Peserta
Turing kali ini akan melibatkan lebih banyak pesepeda, yakni 52 orang  yang terdiri dari karyawan Kompas Gramedia, anggota Kopassus, komunitas perusahaan, media televisi, serta komunitas sepeda di Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Jumlah itu melebihi dari rencana awal yakni 50 orang. Kompas.com mengikutsertakan dua karyawannya yakni Hery Prasetyo dan penulis.

Rencananya, tim akan dilepas dari depan Kantor Kompas-Gramedia, Kamis (3/10/2011) pagi. Dari Palmerah Selatan, tim akan bergerak ke Merak-Bandang Lampung-Kotabumi-Baturaja-Tanjung Enim-Prabumulih-dan berakhir di Palembang pada 9 November 2011.

Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo di antara peserta jelajah sepeda Jakarta-Palembang, Kamis (3/11/2011) pagi. Kegiatan ini merupakan bagian dari partisipasi Kompas memeriahkan SEA Games XXVI yang akan digelar di Jakarta dan Palembang. Jelajah sepeda diperkirakan sampai di Palembang 9 November. (courtesy: Kompas)

Tak hanya gowes. Selama perjalanan, tim akan menggelar berbagai kegiatan seperti khitanan massal di Palembang dan Lampung serta pengobatan gratis di Tanjung Agung. Selain itu akan diserahkan bantuan 1.000 buku untuk taman bacaan di lima kota. Nanti 6 November bertepatan dengan Idul Adha akan menyerahkan dua ekor sapi untuk kurban.

KOSTI menurunkan 2 anggotanya
Dari Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) menurunkan 2 anggotanya. Yaitu Adibud dan Rendy.

Dari catatan ketua KOSTI Tangerang, Everli Erwadi menuliskan kisah perjalanannya saat ikut melepas 2 rekannya di komunitas KOSTI tersebut.

Dari Kosti Tangerang berangkat jam 4.20.setelah Sholat Subuh, sampai Kodam Ulujami jam 5.20. Satu jam ngontel, ketemu bang Rendy dan janjian di lampu merah Srengseng ketemu Adibud. Kami mengantar teman Kosti yang akan bersepeda Kompas Jelajah Jakarta Palembang 800km,tgl 3-9 November 2011.

Ontelis berpengalaman dengan trek jauh, Adibud atau Adi Tato dari Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) salah satu anggota Jalajah Sepeda Kompas 2011, Jakarta – Palembang (courtesy: Everli Erwadi & KOSTI Pusat)

Di perempatan Srengseng Adibud atau Adi Tato (karena banyak tato) bersepeda onthel diikuti dan diarak pakai sepeda Onthel juga. Sedangkan Rendy dibonceng sama sepeda motor oleh Neng Tya.

Kami arak karena Adibud dan Rendy, team brotherhood Koba yang memang hobynya mengayuh Onthel ke Acara Kosti di Cirebon, Bandung, Lampung, Solo, Bali dan lainnya.

Ontelis berpengalaman dengan trek jauh lainnya, Bang Rendy dari Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) salah satu anggota Jalajah Sepeda Kompas 2011, Jakarta – Palembang . Pada Jelajah Sepeda sebelumnya ia juga ikut untuk beberapa kali, termasuk ruta Surabaya – Jakarta (2010) . (courtesy: Everli Erwadi & KOSTI Pusat)

Rendy, pria berumur 53 tahun ini memang terlihat unik, berperawakan gempal, rambut gondrong memutih, dan otot betis yang menonjol bagai bisul-bisul raksasa.

Di kalangan pesepeda, Rendy memang sudah tak asing. Apalagi bagi tim jelajah. Sebab, pria asal Cangkringan, Sleman, Yogyakarta ini sudah mengikuti tiga kali jelajah sepeda yang digelar Kompas. Diawali Anyer-Panarukan (2009), Surabaya-Jakarta (2010) dan Jakarta-Palembang (2011).

Rendy awalnya pesepeda onthel atau lebih dikenal sepeda kuno. Sejak SMP dia sudah suka bersepeda. Sampai beranak empat pun, dia tak pernah lepas dari sepeda, meski kesehariannya sebagai pekerja serabutan dari pasang pintu aluminium, pompa air, dan sebagainya.

Bang Rendy dari KOSTI salah satu anggota Jalajah Sepeda Kompas 2011, Jakarta – Palembang. Foto ini saat event Jelajah Sepeda sebelumnya. (courtesy: Kompas)

“Saya sudah cinta mati sepeda. Tak tahu kenapa, saya tak bisa lepas dari sepeda,” kata Rendy yang kini tinggal di Cipulir, Jakarta Selatan.

Karena cintanya dengan sepeda, dia pernah keliling Indonesia memakai sepeda onthel. “Saya memulainya dari Yogyakarta, kemudian ke Surabaya, Bali, Papua, Makassar, Kalimantan. Lalu, saya kembali ke Yogyakarta, kemudian melanjutkan ke Jawa Barat dan menyeberang ke Sumatera,” kisahnya, di sela mengikuti Jelajah Sepeda Kompas Jakarta-Palembang.

Sayang, ketika di Palembang, orang yang memberi sponsor meninggal dunia dalam kecelakaan. “Saya terpukul berat mendengar kabar itu dan langsung pulang. Bukan karena kecewa tak bisa melanjutkan perjalanan ke Sabang, tapi sedih karena orang yang berjasa kepada saya meninggal dalam kecelakaan,” katanya.

Meski begitu, dia tetap melanjutkan hobinya mengendarai sepeda. Banyak hal lucu, menyedihkan, dan menyenangkan yang ia dapat selama bersepeda. Itu semua menjadi bunga-bunga, catatan sejarah, dan berbagai kisah yang membuatnya semakin mencintai sepeda.

“Yang mengherankan, setiap ada event saya mendapat nama baru. Pertama diberi nama Rendy Onthel. Kemudian, saat Jelajah Sepeda Kompas Anyer-Panarukan, saya mendapat julukan Ki Joko Bodo. Jelajah Surabaya-Jakarta mendapat julukan Gondes. Di event lain, saya dijuluki Bob Marley. Ha…ha…ha…,” tuturnya sambil tertawa renyah.

Dia tak keberatan dijuluki apa saja. Bahkan, dia senang karena dijuluki Bob Marley. “Itu julukan paling keren,” ujarnya.

Di hari biasa, dia tetap setia diengan onthelnya. Bahkan, setiap bulan dia bisa dua atau tiga kali mengendarai onthel dari Jakarta ke Cirebon. “Saya rutin menghadiri acara onthel di Cirebon,” jawabnya.

Saat ada event Onthel, Rendy selalu memakai kostum yang unik.

Karena sejak awal akrab dengan onthel, Rendy pernah kesulitan memakai sepeda multyspeed. Pada keikutsertaan Jelajah Sepeda Kompas Anyer-Panarukan, dia terus menggenjot sepeda dengan gigi yang sama.

Ketika ditanya RC kenapa tak ganti gear walau melewati tanjakan, ternyata dia tak tahu bagaimana menggunakan shifter untuk mengganti gigi roda. “Tapi sekarang saya sudah canggih,” katanya menutup pembicaraan.

Adiboots pernah menempuh Sumatera, Bali dan lainnya. Sedangkan Randy, juga seorang ontelis berpengalaman. Baca artikel tentang Randy Petualang Onthel Sejati

Sampai Gedung Kompas sepeda onthel kami 3 kali di usir oleh satpam di suruh pindah, mereka alergi melihat besi tua. Belum pernah satpamnya di beli ama orang-orang nya kali ya? hehe..🙂

Teman teman Onthelis mulai berdatangan, sekjen kosti Fahmi, Heru Wong Cilik, Bang Edy Koba, Bang Soekim Koba, H Zainal Koba, Aep koba, Agus salim ketua Kontji Cileduk baru dengan motor gede yang baru.

Juga, Mbah Jabrik ketua Koba, Chandra Koba, Toro Koba, Kopral Koba, Yayan Koba dan saya Everli Erwadi dari Kosti tangerang dan teman2 lainnya.

Beberapa anggota KOSTI yang turut mengantar kedua anggotanya dalam Jalajah Sepeda Kompas 2011. Persaudaraan yang tak pernah pudar, muantaaabs . (courtesy: Everli Erwadi)

Beberapa anggota KOSTI yang tetap setia turut mengantar kedua anggotanya dalam Jalajah Sepeda Kompas 2011. Muantaaaabs (courtesy: Everli Erwadi)

Adi Bud dengan Kosti Tangerang sudah touring bersama yaitu Jakarta – Banten Lama, pulang pergi dan Jakarta – Cirebon. Walau kali ini mereka menggunakan sepeda Polygon bukan Onthel,tetapi mereka wakil dari Komunitas Sepeda tua Indonesia dari 52 peserta.

Kami Doakan Adibud dan Rendy Selamat Sampai Tujuan tidak ada halangan dan Sampai kembali ke Jakarta Dengan selamat … Amin

Good Team Player……Onthel juga bisa Kompak,,,,,…..
Everli Erwadi, Kosti Tangerang.

Randy Ontelis KOSTI (rambut panjang) bersama para Peserta Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang bersiap untuk diberangkatkan dari halaman Gedung Kompas Gramedia, Kamis (3/11/2011). (courtesy: KOSTI Pusat)

Wakil Redaksi dan Ketua KONI Melepas Jelajah Sepeda
Kamis (3/11/2011) pagi ini puluhan anggota komunitas pesepeda dari Jakarta, Lampung, Palembang, Bandung, Bogor, Semarang dan Surabaya ini diberangkatkan oleh Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Trias Kuncahyono, Ketua Umum KONI Pusat Rita Subowo, Ishadi SK, dan Komisaris Jenderal Sutarman (Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri).

Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Trias Kuncahyono (kaos kuning) memberikan sambutan sebelum pelepasan tim Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang yang diselenggarakan Kompas. Tim dilepas dari halaman gedung Kompas Gramedia di Palmerah Selatan Jakarta, Kamis (3/11/2011) pagi ini dan diperkirakan tiba di Palembang 9 November. (courtesy: Kompas)

Peserta diberangkatkan dari Gedung Kompas Gramedia di Jalan Palmerah Selatan 26-28, Jakarta. Selain Kapolri, juga akan melepas peserta JSJP Kompas antara lain Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Malaranggeng, Kabareskrim Polri Komisari Jenderal Sutarman, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Untung S Rajab, Ketua Umum KONI Pusat Rita Subowo.

Tim Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang (JSJP) diperkirakan tiba di Palembang tanggal 9 November, atau dua hari sebelum SEA Games XXVI dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 November.

Kilometer yang akan ditempuh selama tujuh hari perjalanan. Mereka akan singgah di sejumlah kota, yakni Merak, Bandar Lampung, Kotabumi, Baturaja, Tanjung Enim, Prabumulih, dan finis di Kota Palembang pada 9 November atau dua hari menjelang pembukaan SEA Games. Rute itu terbagi dalam tujuh etape. Tim akan terus didampingi oleh tim kesehatan dari Rumah Sakit Premier Bintaro.

Etape Pertama – Kamis (3/11/2011) – Warga Antusias
Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo juga mengikuti jelajah sepeda Jakarta-Palembang dalam rangka nemeriahkan Sea Games.

Kapolri akan mengikuti Jelajah sepeda dari kantor Kompas di Palmerah Selatan sampai di Daan Mogot, Jakarta Barat.Selain Timur Pradopo, Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Malarangeng juga mengikuti jelajah sepeda itu sampai di Daan Mogot.

Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo di antara peserta jelajah sepeda Jakarta-Palembang, Kamis (3/11/2011) pagi. Kegiatan ini merupakan bagian dari partisipasi Kompas memeriahkan SEA Games XXVI yang akan digelar di Jakarta dan Palembang. Jelajah sepeda diperkirakan sampai di Palembang 9 November.(courtesy: Kompas)

Jelajah Sepeda 2011 (courtesy: KOSTI Pusat)

Antusiasme warga di sepanjang jalan di wilayah Provinsi Banten, begitu tinggi. Mereka keluar rumah dan berdiri di tepi jalan sambil melambaikan tangan ketika tim Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang Kompas melintas di kota itu.

Bahkan, di lokasi tertentu, pegawai juga keluar kantor masing-masing untuk beri dukungan. “Kami senang sekali melihat anstuasiasme warga yang begitu tinggi. Ini menjadi bukti dukungan untuk kami agar selalu lakukukan yang terbaik,” kata Marta, kapten tim jelajah.

Di sepanjang jalan dari Jakarta ke Merak yang berjarak 127 kilometer tersebut, masyarakat menyambut secara spontan. Ada yang sekadar menonton, banyak pula yang memberi semangat.

“Merdeka…!” kata keramat itu beberapa kali diteriakkan oleh anggota masyarakat yang menyaksikan Jelajah Sepeda. Tak hanya sekali, tetapi beberapa kali. Tak hanya di Tangerang, tetapi juga di Cilegon dan Serang. Kata “semangat” paling sering diteriakkan untuk memberi semangat peserta Jelajah Sepeda.

Sebagian masyarakat yang dilewati juga melihat semangat Jelajah Sepeda ini sebagai bagian dari semangat SEA Games. Sebab, Jelajah Sepeda ini memang dilakukan untuk memeriahkan SEA Games XXVI di Indonesia yang akan dibuka di Stadion Jakabaring, Palembang, 11 November nanti.

Tim Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang tengah beristirahat di SPBU kawasan Ciruas, Serang, Banten, Kamis (3/11/2011). (courtesy: Kompas)

“Indonesia jaya!” begitu teriak seorang sopir angkot sambil mengacungkan jempolnya. Etape pertama lebih banyak jalan datar. Sehingga, tantangan belum terlalu berat. Sedangkan di etape kedua nanti, tim banyak melahap tanjakan. Sedangkan etape kedua didominasi jalan tanjakan. Bahkan, sekitar 40 km di antaranya berupa jalan penuh tanjakan (rolling).

Tak hanya kekuatan yang dibutuhkan, tapi juga mental. Sebab, jika mental menurun, kekuatan justru bisa berkurang. Sebagian peserta sudah mulai waswas, merancang strategi dan tektik apa agar bisa melahap tanjakan demi tanjakan. “Saya paling parah kalau melewati tanjakan. Namun, semoga perjalanan lancar tanpa hambatan,” kata Muhammad Yana, salah satu peserta.

Sementara Wintolo merasa harus mengurut lutut kanannya, karena terasa linu saat melahat etape pertama. Dia berharap, etape kedua bisa dilewati dengan baik, dan rasa sakit di lututnya tak muncul lagi. Semua peserta sedang rilek seusai makan malam di Merak, Kamis (3/11/2011).

Etape Kedua – Jum’at (4/11/2011) – Banyak Tanjakan, 1 Peserta Tak Finis
Tim Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang mulai memasuki etape kedua, Jumat (4/11/2011) pagi. Start dari Hotel Merpati di Merak, Banten, tim akan menuju Bandar Lampung dengan panjang rute lebih kurang 92 kilometer.

Koordinasi Tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang sebelum memulai etape ke-2 Merak-Lampung, Jumat (4/11/2011). Pada etape 2 Merak-Lampung tim menempuh jarak sekitar 92 kilometer. (courtesy: Kompas)

Berangkat dari hotel sekitar pukul 06.30 dengan meng-gowes sepeda Polygon berwarna merah dan putih, tim menuju Pelabuhan Merak, lalu menyeberang dengan kapal feri menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Tentunya terlebih dulu sarapan dan pemanasan.

Memasuki pelabuhan Merak, untuk persiapan etape ke-2 menuju Bandar Lampung, tim Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang menjadi pusat perhatian. Tak lupa anak-anak yang suka berenang di laut sambil meminta penumpang melempar uang dari kapal.

Seorang anak perenang mengaku sangat memimpikan sepeda. Apalagi, melihat sepeda yang digunakan tim jelajah, dia mengaku “ngiler”. “Waaah, sepedanya keren, bikin ngiler, nih,” kata anak itu.

Ketika ditanya, dia mengaku sebagai penghibur penumpang. Dia biasa mengikuti fery, kemudian terjun. Di laut, dia menunggu penumpang melempar uang dan langsung mengejarnya.

Namun, kali ini dia berputar dulu minta uang jasa seadanya, sebelum melakukan aksi lompat dari kapal. Hanya saja, ketika ditanya seorang peserta jelajah sepeda, dia langsung bersemangat.

“Bang, nanti yang dilempar sepedanya ya, jangan uang,” katanya bercanda, setengah berharap. “Emang, kalau sepeda dilempar, kamu bisa membawanya ke pinggir sambil berenang?” tanya peserta itu. “Ya berat, tapi pasti bisa. Lempar ya Bang, saya ingin sekali punya sepeda, apalagi yang bagus begini,” ibanya.

Tentu saja, permintaannya tak dituruti, karena sepeda masih dipakai untuk menjelajah tanah Sumatera menuju Palembang.

Tim jelajah sepeda menaiki kapal ferry dari Merak menuju Bakauheni, Jumat (4/11/2011) pagi. (courtesy: Kompas)

Tim berhenti di Hotel Amelia di Jalan Raden Intan, Bandar Lampung. Setelah menyeberang dengan kapal feri dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung, tim harus berhadapan dengan tanjakan panjang dengan kemiringan sekitar 40 derajat :p

Awal perjalanan di Pulau Sumatera langsung disambut tanjakan lebih dari 13,34 kilometer berikut tanjakan lainnya hingga menjelang Kota Bandar Lampung.

Lalu tanjakan panjang berkali-kali tentu membuat nafas ngos-ngosan dan paha nyut-nyutan. Perjalanan makin berat lantaran tim harus gowes menanjak melawan tiupan angin kencang.

Iring-iringan pesepeda yang rapih sejak etape pertama Jakarta-Merak akhirnya terpecah menjadi beberapa kelompok di etape dua ini. Anggota tim yang tak kuat, memilih “gandul” motor rombongan. Para sweeper juga harus naik turun untuk membantu mendorong pesepeda yang tertinggal rombongan besar.

Hanya satu tanjakan? Tidak! Berkali-kali tanjakan serupa dan sedikit turunan yang membuat napas ngos-ngosan harus dihadapi hingga Masjid Al-Insan di Jalan Raya Kalianda, Bakauheni. Di sana, sebagian anggota tim melakukan shalat Jumat, istirahat, dan makan siang.

Setelah itu, perjalanan lebih “manusiawi”. Meski masih ada rute naik-turun (rolling), mayoritas jalan datar. Namun, tiupan angin kencang di sebagian besar rute yang dilewati menggangu perjalanan tim.

Setelah naik turun (rolling) sekitar 13 kilometer, tim berhenti Masjid Al-Insan di Jalan Raya Kalianda, Bakauheni, untuk sholat Jumat dan makan siang. Setelah itu, tim  kembali bergerak ke Bandar Lampung dengan panjang rute 80 kilometer.

JTim Jelajah Sepeda Kompas Jakarta-Palembang saat melintasi daerah Kalianda. Mereka sering disuguhi tanjakan demi tanjakan. (courtesy: Kompas)

Rombongan gowes tak hanya mengeluarkan banyak tenaga di etape kedua ini. Tim juga harus ekstra hati-hati ketika beberapa kali melewati turunan panjang berkelok-kelok.

Sebagian besar peserta belum pernah melewati jalur Bakauheni-Bandar Lampung, melewati Kalianda. Kalaupun pernah melewati memakai bus atau mobil, mereka lupa bagaimana detail medan dan konturnya.

Dengan demikian, banyak yang terkaget-kaget. Begitu lepas dari Pelabuhan Bakauheni, peserta langsung “disuguhi” tanjakan panjang. Setelah itu datar sebentar, kemudian jalan bergelombang. Menanjak, turun sebentar, kemudian menanjak lagi.

Yang sering membuat kaget, beberapa peserta merasa sudah hampir melewati puncak tanjakan. Ternyata, setelah berbelok, ada tanjakan lagi. Oleh karenanya, banyak yang berharap akan ada turunan, ternyata kecele (tertipu).

Seorang peserta dari Harian Kompas dan juga anggota Kompas Gramedia Cyclist (KGC), Agus Hermawan, termasuk yang sering kecele. “Saya pikir setelah tanjakan akan ada jalan turun. Ternyata, masih ada tanjakan lagi. Apalagi mau masuk Kota Bandar Lampung, rasanya tanjakan tak habis-habis. Saya merasa ‘diperkosa’ oleh tanjakan,” candanya sambil tertawa.

Namun, dia merasa ini pengalaman yang menyenangkan. Jalur Bakauheni-Bandar Lampung, katanya, sangat menarik dan tak membosankan. Apalagi di sepanjang jalan, masyarakat menyambut dengan antusias dan selalu memberi semangat.  Dan untungnya perjalanan ini tidak membosankan karena pesepeda dapat menikmati pemandangan pegunungan dan laut sepanjang rute.

Pesepeda Dimanjakan Pemandangan Alam (courtesy: Kompas)

Max, begitu panggilan akrabnya tidak bisa sampai finis, karena mengalami diare, sekali pun hal tersebut terjadi hanya tinggal sekitar lima kilometer kepenginapan ke-52 peserta JSJP di Bandar Lampung.

Max Agung Pribadi salah satu peserta Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang dari Kompas Gramedia Cyclist tidak bisa menyelesaikan etape dua dengan sempurna . “Tadi setelah menyampaikan hal ini kepada dokter tim, katanya bukan diare. Tetapi karena asam lambung yang tinggi,” tutur Max.

Etape Ketiga – Hari ke-1 Sabtu (5/11/2011) – Dua Orang Ikut Bergabung
Rencananya, tim akan memulai etape ketiga,  dengan rute Bandar Lampung-Kota Bumi sepanjang lebih kurang 115 kilometer. Tim jelajah serta para petinggi Kompas Gramedia akan fun bike mengelilingi Bandar Lampung.

Kegiatan lain, Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas menggelar sunatan massal. Selain menggelar sunat massal, Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas juga menyerahkan bantuan buku untuk perpustakaan SMPN 7 Kotabumi dan SMP Yos Sudarso Metro.

Setelah rangkaian acara itu, tim jelajah bergerak ke Kotabumi bersama 500 persepeda pendamping mulai dari polisi, komunitas sepeda onthel, dan komunitas lain. Rombongan fun bike akan mendampingi tim jelajah sampai Millenium Natar.

Srikandi Polisi Wanita Kepolisian Daerah Lampung menjadi rebutan anggota tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang sesaat setelah bendera start dikibarkan untuk memulai etape ke-3, Sabtu (5/11/2011). (courtesy: Kompas)

Srikandi Polisi Wanita Kepolisian Daerah Lampung menjadi rebutan anggota tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang sesaat setelah bendera start dikibarkan untuk memulai etape ke-3, Sabtu (5/11/2011). Bukan berebut untuk bersalaman atau berkenalan tetapi anggota tim berebut berfoto bersama mereka.

Sebanyak enam Srikandi Polda tersebut naik sepeda lipat ikut mendampingi tim keluar dari Kota Bandar Lampung. Keberadaan mereka tidak disia-siakan anggota tim yang menganggap berfoto bersama Srikandi Polda merupakan kesempatan langka.  Meski hanya ikut bersepeda sekitar lima kilometre, kehadiran Srikandi tersebut memberikan warna tersendiri di dalam rombongan.

Peserta Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang ingin tetap kompak untuk menyelesaikan etape ke tiga Bandar Lampung-Kotabumi Sabtu (5/11) pagi ini. Sebab semua peserta tetap berada dalam satu kelompok. Sekali pun ada beberapa yang sempat tercecer bahkan butuh bantuan dari marshall.

Selain ke tiga marshall berikut road captain yang bekerja keras untuk mendorong peserta putri berikut peserta pria yang tidak kuat, juga ada beberapa anggota JSJP yang lebih kuat yang membantu rekan lainnya.

Namun untunglah pada etape ini Tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang bertambah dua anggota di etape ketiga rute Bandar Lampung-Kotabumi sepanjang 115 kilometer, Sabtu ( 6/11/2011 ).

Redaktur Pelaksana Kompas Budiman Tanuredjo bergabung sejak awal start di Kantor Tribun Lampung. Setelah itu, fotografer Kompas Heru Sri Kumoro yang selalu memotret perjalanan jelajah ikut gowes dengan sepeda Polygon. Dengan demikian, total rombongan sepeda 55 orang.

Jelajah Sepeda Kompas hari ketiga (courtesy: Kompas)

Di tengah etape, tim istirahat dan makan di daerah Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Sejak awal etape ketiga hingga saat ini, mayoritas jalan yang dilalui datar. Namun, cuacanya sangat terik dan berdebu.

Etape yang menempuh jarak mencapai 115 kilometer dari Badar Lampung ke Kotabumi hampir semua peserta tiba dengan ceria di tempat penginapan. Keceriaan tersebut sudah terlihat ketika jarak ke Kotabumi tinggal sekitar 20 kilometer lagi. Sebab sekali pun cukup banyak tanjakan dan turunan tetapi justru dimanfaatkan para peserta untuk saling berpacu untuk menyelesaikan tanjakan.

Begitu masuk di Kotabumi, ke-52 tim peserta Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang langsung disambut empat komunitas sepeda yang ada di Kotabumi selesai etape ketiga, Sabtu (5/11/2011) . Puluhan pesepeda dari komunitas lokal. Mereka ikut bergabung dalam iring-iringan mengelilingi kota hingga finisdi Hotel Duta. Masyarakat juga menyambut hangat tim.

Keempat komunitas tersebut telah dihubungi setelah keduanya mengetahui Kotabumi akan menjadi salah satu tempat persinggahan dari Kompas JSJP. Keempat komunitas tersebut mewaliki jenis sepeda yang digunakan anggotanya. Ada anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas fixie serta dua komunitas MTB dan satu komunitas sepeda ontel,” jelas Yen begitu panggilan anggota komunitas MTB itu.

Keempat komunitas sepeda tersebut langsung menyambut ke-52 peserta Kompas JSJP ketika tiba di pintu Kotabumi. Rombongan yang semakin besar itu langsung berputar di jalan protokol Kotabumi yang langsung disambut warga yang langsung keluar dari rumah dan gang-gang Kotabumi untuk menyaksikan konvoi sepeda tersebut.

Beberapa peserta Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang memamerkan paha mereka yang belang, setelah melewat tiga etape atau jarak 334 kilometer di Kotabumi, Sabtu (5/11/2011). (courtesy: Kompas)

Secara keseluruhan, perjalanan di etape ketiga berjalan lancar. Iring-iringin pesepeda dengan panjang iringan sekitar 80 meter selalu rapi dan tidak terputus. Perjalanan juga lebih cepat dari rencana awal yakni finispukul 17.00.

Sampai etape ketiga, sudah 334 kilometer ditempuh. Sebuah perjalanan “diam”, tapi penuh gaung. Pesan-pesan moral jelajah seolah terserap dengan baik oleh masyarakat. Saat malam hari, tim akan makan bersama Bupati Lampung Utara Zainal Abidin.

Etape Ketiga – Hari ke-2  Minggu (6/11/2011) – Hari Raya Idul Qurban
Di etape empat hari ini, dengan sepeda Polygon, tim akan gowes meninggalkan Provinsi Lampung dan masuk ke wilayah Sumatera Selatan, atau tepatnya menuju Batu Raja sejauh 149 kilometer.

Tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang 2011 menyerahkan dua ekor sapi kurban saat Idul Adha 1432 H di Masjid Agung Al-Jami Kotabumi, Lampung Utara.

Tim Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang saat melewati Kabupaten Lampung Utara. (courtesy: Kompas)

Lioe Irwan salah satu peserta, untuk sementara harus berada di ambulans karena asam lambung Irwan belum turun. Jadi, sementara lihat perkembangannya dua jam ke depan, Minggu (6/11/2011) pagi.

Etape keempat rute Kotabumi, Lampung Utara, menuju Baturaja, Sumatera Selatan, sangat menguras tenaga para pesepeda yang tergabung dalam tim ini.

Di awal etape, tim tak mengalami kendala berarti, hanya lubang-lubang di sepanjang jalan. Memasuki belasan kilometer dari titik start, jalanan mulai tak bersahabat. Tanjakan-tanjakan edan dan sedikit turunan membuat napas ngos-ngosan. Akhirnya, tim saling dorong.

Salah satu keistimewaan etape ini adalah adanya nite ride atau bersepeda malam hari, yang mungkin menjadi nite ride terpanjang dengan pesepeda terbanyak di Indonesia. Sebab, tim akan menempuh jarak sejauh 35 kilometer dari Bukit Kemuning ke Batu Raja dengan jumlah peserta 52 orang.

Tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang melintas di Martapura, Ogan Komering Ilir pada etape ke-4, Minggu (6/11/2011). Pada etape ke-4 Kotabumi, Lampung Utara-Baturaja, Ogan Komering Ulu tim menempuh jarak sekitar 164 kilometer. (courtesy: Kompas)

Tahap pertama, tim akan menuju Way Kanan, batas antara Provinsi Lampung dengan Sumsel. Di sana, tim beristirahat. Setelah itu, tim kembali bergerak ke Martapura. Setelah beristirahat di Martapura, tim  night ride hingga Baturaja dengan panjang sekitar 35 kilometer.

Tim akan disambut pejabat pemerintah daerah setempat di perbatasan antara Lampung dan Sumatera Selatan. Nanti di batas Kota Martapura akan disambut komunitas sepeda lokal, bersama-sama keliling Kota Martapura. Setelah itu disambut Wakil Bupati di Gedung Tani.

Etape Keempat – Senin (7/11/2011) – Seorang Jatuh dan Srikandi Kelelahan
Tim Jelajah Sepeda Kompas Jakarta-Palembang, Senin (7/11/2011), mulai masuk etape kelima dengan rute Baturaja-Tanjung Enim, Sumatera Selatan, sejauh lebih kurang 130 kilometer.

Hingga saat ini, tim sudah menempuh perjalanan sekitar 490 kilometer dari etape pertama di Jakarta. Masih ada sekitar 320 kilometer lagi hingga finish di Palembang pada Rabu ( 9/11/2011 ).

Tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang melintas di Martapura, Ogan Komering Ilir pada etape ke-4, Minggu (6/11/2011). Pada etape ke-4 Kotabumi, Lampung Utara-Baturaja, Ogan Komering Ulu tim menempuh jarak sekitar 164 kilometer. (courtesy: Kompas)

Menurut Kompas.com, hingga saat ini rute paling berat yakni di etape keempat dari Kotabumi, Lampung Utara menuju Baturaja. Selain rute paling panjang yakni 149 kilometer, kondisi jalan yang naik turun (rolling) tiada henti membuat sepanjang jalan harus menarik nafas dalam-dalam.

Semalam, dengan penerangan jalan yang sangat minim, tim sempat mengalami night ride sejauh 35 kilometer dari Martapura hingga finish di Hotel Bukit Indah Lestari pukul 20.40 WIB. Sempat terjadi kecelakaan tunggal ketika salah satu peserta, Anton Sanjoyo terjatuh. Setelah mendapat perawatan dari tim medis, karyawan Kompas itu dapat melanjutkan perjalanan.

Inilah tiga srikandi peserta Kommpas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang: Intan, Winda, dan Rini (kiri ke kanan). Foto diambil ketika mereka melintas di etape ke-4 Kotabumi di Lampung Utara-Baturaja-Ogan Komering Ulu di Sumsel, Minggu (6/11/2011). (courtesy: Kompas)

Pada pertengahan night ride, tiga Srikandi yakni Rini Rismiati (35), Intan satria (30), dan Winda Yuliani (23) harus dievakuasi lantaran kelelahan.

Etape Kelima – Senin (7/11/2011) Sore hari – Pukul 15:30

Tim Jelajah Sepeda Kompas Jakarta-Palembang disambut kesenian reog dan marching band ketika finish pada etape kelima di Kantor PT Bukit Asam di Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (7/11/2011) sekitar pukul 15.30 WIB.

Etape kelima ini, tim menempuh rute Baturaja-Tanjung Enim sepanjang 90 kilometer. Di Desa Maltas, atau sekitar 30 kilometer sebelum titik finish, tim bergerak bersama-sama dengan puluhan pesepeda dari komunitas PT Bukit Asam dan Tanjung Enim.

Reyok Muara Enim menghibur tim Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang di PT Bukit Asam, Senin (7/11/2011).

Direktur Niaga PT Bukit Asam Tiendas Mangeka menyambut ke-52 peserta Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang (JSJP) 2011 dan memberi kesempatan kepada para peserta untuk mengenal lebih dekat pertambangan batubara di Bukit Asam.

Atraksi dari kelompok reog Watu Ireng itu juga cukup menghibur tim di tengah kelelahan. Di Bukit Asam, tim juga dibawa mengunjungi tambang batu bara milik perusahaan tersebut.

“Dalam radius 20 kilometer dari sini, terkandung batubara senilai 7,2 miliar ton,” kata Tiendas, Senin (7/11/2011) di Tanjung Enim.

Peserta Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang mendapat kesempatan menyaksikan tambang batubara PT Bukit Asam, Muara Enim.

Selain Direktur Niaga PT Bukit Asam, juga ada Direktur Bisnis Harian Kompas Hardianto yang turut menyambut rombongan yang masuk Tanjung Enim lebih cepat dari perkiraan.

Dengan begitu, hingga saat ini ke-52 peserta JSJP sudah menyelesaikan lima etape dari tujuh etape yang harus diselesaikan dalam JSJP.

Etape Keenam – Selasa (8/11/2011) – Panas Terik, Sauna Sepanjang Jalan

Mengawali etape ke-6 antara Muara Enim ke Prabumulih, tim JSJP dilepas para pemimpin PT Bukit Asam, SMA Bukit Asam, dan SMP 1 Muara Enim. Bahkan ada acara khusus pelepasan dari pihak PT Bukit Asam. Anak-anak SMA Bukit Asam juga memberi hiburan drum band sebelum dilakukan seremoni pelepasan.

Siswa SMA Bukit Asam dan SMP 1 Muara Enim ikut melepas tim JSJP mengawali etape ke-6 Muara Enim-Prabumulih. (courtesy: Kompas)

Etape ke-6 akan menempuh jarak sekitar 90 kilometer. Ini jarak paling ringan sekaligus memberi kesempatan tim melakukan sedikit pemulihan, setelah dua etape sebelumnya “dihajar” tanjakan dan panas matahari.

Sebanyak 14 pesepeda dari klub Jeme Bekrite dari Muara Enim ikut bergabung dengan tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palemnang, mulai etape enam.

Namun, menurut road captain, Marta Mufreni, akan ada beberapa rintangan. “Saya dapat informasi kita akan melewati 11 lintasan kereta api dan itu bisa sangat mengganggu sekaligus bahaya,” jelas Marta.

Meski sinar matahari sangat terik sepanjang jalan, etape ke enam dengan rute Tanjung Enim menuju Prabumulih, Sumatera Selatan mudah dilalui tim Jelajah Sepeda Kompas Jakarta-Palembang, Selasa (8/11/2011).

Jarak sekitar 102 kilometer dari titik start di Kantor Bukit Asam, Tanjung Enim, hingga finish di Hotel Gran Nikita, Prabumulih, ditempuh tim tak sampai lima jam. “Tim sudah pada kuat,” kata Marta Mufreni, Road Captain Jelajah.

Selain panas yang menyengat sepanjang perjalanan, kondisi jalan yang berlubang mengganggu tim. Lubang semakin besar dan dalam ketika memasuki kota Prabumulih. Diperlukan kerjasama antar barisan depan dengan belakang. Selama etape ke enam ini, tak terhitung berapa kali marshall meneriakkan, “Awassss lobaaaang…”

Sejak start etape pertama di depan Kantor Kompas Gramedia di Jakarta hingga saat ini, setidaknya tim sudah bergerak sepanjang 697 km. Jika tanpa istirahat, tim sudah gowes selama 32 jam.

Besok adalah etape terakhir dari perjalanan selama tujuh hari. Tim akan masuk ke Palembang dengan panjang rute sekitar 100 kilometer.

Etape Ketujuh – Rabu (9/11/2011) – Masuk Palembang

Setelah menempuh enam etape sepanjang lebih kurang 697 km, tim Jelajah Sepeda Kompas Jakarta-Palembang akhirnya memasuki etape terakhir dengan rute Prabumulih-Palembang sepanjang sekitar 100 kilometer, Rabu (9/11/2011).

Sebelum start dari Hotel Gran Nikita di Prabumulih, Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas menyerahkan bantuan buku untuk Taman Bacaan Masyarakat Baitul Kora. Setelah itu, tim akan bergerak bersama belasan sepeda onthel dari komunitas sepeda lokal.

Sepanjang perjalanan, rombongan sepeda disambut antusiasme masyarakat. Anak-anak sekolah berhamburan keluar kelas untuk menyaksikan dan melambaikan tangan pada rombongan ini. Begitu pula masyarakat yang berjejer di sepanjang jalan.

Tim Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang sering disambut antusias oleh masyarakat secara spontan dan penuh dengan rasa nasionalisme.

Etape ketujuh ini merupakan etape paling mudah lantaran mayoritas jalan mendatar. Namun, kondisi lalu lintas akan semakin padat mendekati Palembang.

“Jadi kita akan banyak berhenti buat buang kendaraan di belakang kita. Rencananya kita tiga kali berhenti,” kata Marta.

Rombongan ini berangkat dari Kota Prabumulih Rabu pagi dan berhenti di Universitas Sriwijaya (Unsri), Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir.

Untuk diketahui, selama perjalanan, petugas Kepolisian melakukan sterilisasi jalan. Hanya kendaraan roda dua yang diperbolehkan menyalip iring-iringan tim. Terkadang, tim berhenti lebih dulu untuk mempersilahkan kendaraan roda empat atau lebih melewati rombongan.

Akhirnya, rombongan Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang 2011 pada Rabu siang (9/11/2011) memasuki Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Rombongan Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang 2011 siang Rabu (9/11/2011) ini memasuki Kota Palembang, Sumatera Selatan. (courtesy: Kompas)

Rombongan yang terdiri dari 53 pesepeda dari Jakarta dan 10 pesepeda dari PT Bukit Asam, Kabupaten Muara Enim, ini diterima Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng dan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin di kawasan Stadion Bumi Sriwijaya, Palembang.

Kota Palembang menjadi tujuan akhir perjalanan sepeda dengan jarak total sekitar 820 Kilometer itu. Rombongan masuk lewat Terminal Karyajaya dan melewati Sungai Ogan untuk selanjutnya melintasi ikon Palembang Jembatan Ampera.

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, menyambut para penggowes Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang 2011 di Palembang Sport and Convention Center, Palembang, Sumatera Selatan.

“Saya sambut baik dengan inisiatif Kompas untuk sukseskan SEA Games XXVI dengan Jelajah Sepeda ini. Juga dengan pengamatan-pengamatan yang tertuang di berita selama ini,” katanya, Rabu (9/11/2011).

Jalajah Sepeda Kompas 2011 di Palembang

Setelah gowes sepeda sepanjang hampir 800 kilometer dalam tujuh etape, para penggowes meluapkan kegembiraan dengan saling bersalaman satu sama lain. “Kami puas sekali bisa menyelesaikan perjalanan ini,” kata peserta tertua Henry Yoswara (55).

Sepasang Komodo sebagai maskot SEA Gmes 2011 di Palembang dan Jakarta yang bernama Modo dan Modi

Atraksi barongsai dan sambutan para pesepeda dari komunitas lokal ikut memeriahkan penyambutan. Keceriaan semua pesepeda pun terpancar ketika menghentikan ayunan kaki.

Seperti layaknya atlet, tim dikalungi medali buatan Kompas. Setelah itu, tim dan ratusan pesepeda lokal fun bike mengelilingi salah satu kota yang menjadi tuan rumah SEA Games XXVI itu.

Sebanyak 53 pesepeda, 3 di antaranya perempuan, berangkat dari Jakarta, Kamis pekan lalu. Rombongan ini menempuh jarak lebih kurang 820 Kilometer selama tujuh hari.

Rini Rismiati (35), Intan Satria (30), dan Winda Yuliani (23), tiga Srikandi dalam tim Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang telah membuktikan ketangguhannya.Panas terik sinar matahari mencapai 38 derajat celcius, gerimis, tanjakan panjang dengan kemiringan hampir 45 derajat, lubang jalanan, debu dan asap kendaraan, sudah mereka hadapi selama mengayuh sepeda.

Perjalanan ini dimaksudkan memeriahkan SEA Games XXVI yang berlangsung di Jakarta dan Palembang 11-22 November. Sejauh ini, tak ada kendala berarti dalam jelajah sepeda ketiga yang diselenggarakan Kompas tersebut. (Kompas.com)

Ampera Bridge cross Musi River in Palembang

*****

 ” It’s cool to be different…”

*****

(Courtesy Articles & Picture by: Kompas.com)

SpedaOntel.wordpress.com

Pos ini dipublikasikan di Event Acara, Kisah Bersepeda. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sambut SEA Games 2011: Kompas Jelajah Sepeda Jakarta-Palembang, Diantara Tim Terdapat Dua Ontelis KOSTI

  1. Everli Erwadi berkata:

    Bang Rendy Memang Pas dengan Onthel Dengan Koteka,Pas Dengan Goes nya,.Kalau istirahat lebih dari 2 jam sudah Mulai Marah marah,.Kapan sampai nya…..
    Ternyata Wajah seram nya dia adalah Pria yang Ramah…..Terus berjuang Bang Rendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s