A Seng, Si Pemilik Bengkel Sepeda “Onthel” yang Masih Bertahan

Bengkel Sepeda A Seng

Sepeda onthel pernah menjadi alat transportasi di Jakarta. Di era Batavia pada akhir abad ke-19, kendaraan roda dua ini mulai dilirik kaum elite Belanda. Seiring pergeseran zaman, sepeda ini tidak lagi dilirik masyarakat.

Sepeda ini hanya dikagumi pencinta sepeda yang kerap mengoleksi berbagai jenis sepeda. Namun, di tengah menurunnya popularitas sepeda onthel, sebuah toko suku cadang sepeda onthel di Jalan KH Moch Mansyur, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, masih ramai dikunjungi pencinta sepeda.

Bengkel milik A Seng (71) itu diberi nama Toko Wing. Dengan terbiasa menggunakan kaus kutang putih, ia memerintah lima anak buahnya. Di perutnya melingkar tas pinggang berisi tumpukan uang.

Pria keturunan Tionghoa asal Singkawang, Kalimantan Barat, itu akrab disapa Baba Aseng. Ia sudah mulai lunglai, namun masih rajin mengontrol toko onderdil sepeda miliknya yang tetap ramai pengunjung.

Toko Wing dibangun pada 1958. Beragam suku cadang sepeda onthel Gazelle, Fongers, Betavus, Raleigh, Simplex, Humber, Sunbeam, Phoenix, Burgers, Rudge, maupun Phillips yang semakin sulit dicari, dengan mudah bisa ditemukan di toko ini.

Bahkan sampai suku cadang becak 1970 yang sudah punah di Jakarta, masih tersedia di bengekl ini, meskipun yang tersedia produk pabrikan dari Tiongkok.

Tak hanya itu, kunci tempel merek Wing yang sulit dicari, di toko A Seng masih tersimpan beberapa pasang. Ada pula dinamo lampu, rem tromol, standar babi, dan sebagainya yang masih tersedia lengkap.

Bengkel Sepeda A Seng 3

Penggemar sepeda onthel bakal dimanjakan di toko tersebut. “Merek apa pun tersedia di sini. Ada juga produk asli pabrikan dari Inggris. Kami memesan sama orang yang ke sana. Itu pun sisaan saja karena barang baru sudah tidak produksi,” ujarnya.

Bengkel ini memang sudah santer terdengar. Era keemasan bengkel A Seng terjadi pada 1970-1980. Pencinta sepeda onthel rela mengantre di tokonya.

“Zaman becak di Jakarta mulai dihapuskan, mereka pada pakai sepeda. Waktu itu, banyak orang cari suku cadang merek Raleigh,” tuturnya.

Kakek yang bernama melayu Suparli ini mengatakan, pada 1970-1980-an, bengkel sepeda onthel di Jalan KH Moch Mansyur tidak hanya toko miliknya. Di sepanjang sisi kiri dan kanan jalan, berderet toko penyedia onderdil sepeda.

“Zaman sudah berubah, sekarang orang pakai motor, tokonya juga berubah,” katanya.

Sempat Bangkrut

Dari deretan toko yang tadinya ada, hanya milik A Seng yang masih bertahan hingga kini. Hiruk-pikuk Jalan KH Moch Mansyur tak seramai sekarang.

Dahulu masyarakat enggan berdagang di sana. Menurut A Seng, saat itu jalan rayanya jelek, masih batu dan tanah, becek, juga sering kebanjiran. “Saya buka kios saja cuma tempat butut, luasnya 4×6 meter, jualannya masih sedikit,” ucapnya.

Berbekal pengalaman hidup bersama sang ayah yang juga pengusaha onderdil sepeda di Singkawang, A Seng kecil nekat membuka usaha di perantauannya.

Akhirnya, bengkel sepeda onthel miliknya tidak tenggelam dimakan zaman. A Seng mengatakan, sepeda onthel saat itu menjadi moda transportasi dan alat angkut barang. Masyarakat menggunakan sepeda untuk bepergian.

“Bahkan untuk bawa barang, bawa buah, bawa kayu, pakai sepeda. Saya pilih usaha onderdil sepeda karena saat itu sepeda merupakan sarana transportasi,” ujar kakek 10 cucu ini.

Tidak hanya bisnis onderdil, saat itu ia mulai merakit sepeda mini untuk disewakan, lainnya digunakan ke sekolah. Kala itu pada sekitar 1960, harga sewa per jam sangat murah, hanya beberapa perak.

“Jadi, kami buat dari sepeda besar, tinggal dikecilin. Sayangnya, bergeraknya itu tidak mulus sebab peleknya hanya dilas, rodanya disambung, dikecilin,” tuturnya.

Bengkel Sepeda A Seng 2

Pencinta sepeda onthel rela mengantre di tokonya.

Saat itulah masa kejayaan toko milik A Seng. Ayah enam anak ini melayani pembeli dari seluruh Nusantara. Puncaknya, toko A Seng bangkrut pada 1998, saat kerusuhan.

“Semuanya habis, ludes, orang nggak mau bayar, tapi kami dipaksa bayar tagihan,” ceritanya. Dengan susah payah, A Seng kembali membuka toko sepedanya.

Meski tidak seindah pada 1970-1980-an, bengkel sepeda onthel miliknya tetap dikunjungi pencinta onthel. Selisih untungnya kini berbeda jauh karena sudah kalah sama bengkel sepeda motor. Pasar sepeda juga semakin modern. Sepeda onthel harus bersaing dengan sepeda lipat, fiksi, sepeda gunung, dan jenis lainnya.

Menurut A Seng, selain di bengkel miliknya, toko onderdil onthel ada di kawasan Jakarta Timur. “Barang-barang produksi zaman dulu sangat tahan lama, bisa dipakai seumur hidup, besi juga masih bagus. Kalau sekarang, hanya dipakai beberapa bulan mesti ganti baru,” ucapnya.

Meski berusia lanjut, ia tak ingin kalah dengan enam anaknya maju membuka toko sepeda di seantero Jakarta. “Sekarang onderdil onthel masih banyak orang cari. Kemarin orang dari Palembang cari persneling yang bunyinya tik…tik…tik. Itu buatan Inggris dan Jepang, saya kasih harga di atas Rp 1 juta,” ujarnya.

Jejak sepeda onthel memang tidak bisa dilepaskan dari Belanda. Komunitas Onthel Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) pada Juli-Agustus 2011 melansir, sepeda sudah ada di Indonesia sejak 116 tahun lalu. Kehadiran sepeda onthel memiliki kisah tersendiri sebab merek sepeda menentukan status pengayuhnya.

Contohnya sepeda merek Hima, biasanya dipakai polisi Belanda untuk berpatroli. Pada masa lalu, jika ada Hima diparkir di suatu tempat, berarti ada polisi di sekitar lokasi itu. Saat itu, polisi Belanda adalah sosok yang digunakan pemerintah kolonial untuk menakuti warga. (Sumber : Sinar Harapan / sinarharapan.co)

SpedaOntel.wordpress.com

Pos ini dipublikasikan di Info dan Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s