Freestyle Ontel: Biar “Jadul”, Bisa Akrobat

Onthel Freestyle

Gaya bebas, demikian bilamana freestyle diartikan dalam bahasa Indonesia. Istilah freestyle belakangan ini semakin populer di kalangan pencinta berkendaraan roda dua. Bukan hanya sepeda motor, melainkan juga sepeda angin (sepeda kayuh).

Bahkan belakangan ini, tren freestyle juga ditampilkan cyclist, (sebutan penggila bersepeda-red.). Umumnya, mereka melakukannya dengan menggunakan sepeda BMX ataupun sepeda gunung. Di Kota Bandung ini lain lagi, cyclist melakukan freestyle dengan sepeda kumbang, jengki , atau yang lebih dikenal dengan sebutan sepeda ontel.

Onthel Freestyle - photo courtesy by Pebrusani Yusuf“Tren yang sedang terjadi saat ini di kalangan pemilik sepeda ontel, terutama di kalangan anak mudanya adalah memperlakukan sepeda koleksi bukan sekadar tunggangan untuk dikayuh. Akan tetapi beberapa di antara kami juga melakukan gerakan freestyle yang biasanya dilakukan pengendara (sepeda) motor, sepeda BMX ataupun sepeda gunung (all terrain bike/ATB),” ujar Adiguna (39), salah seorang pelopor freestyle di Paguyuban Sepeda Onthel Bandung (PSOB) atau Paguyuban Sapeda Baheula (PSB).

Menurut Adiguna, ketertarikan beberapa anak muda di PSOB/PSB, berawal dari posting di internet, ternyata sepeda ontel pada masa perang dunia ke-2 banyak digunakan para kurir untuk melakukan akrobat.

“Tujuannya waktu itu untuk sekadar menghibur diri maupun rekan-rekannya yang sedang melakukan peperangan,” ujar Adiguna. Freestyle semakin mendunia manakala Doug Domokos asal Amerika Serikat rajin melakukan atraksi dengan menggunakan sepeda motornya.

Onthel Freestyle - photo courtesy by Pebrusani YusufBahkan, pria kelahiran Niles, Michigan, Amerika Serikat pada 31 Desember 1955 ini sempat masuk Guiness Book of Record, lewat atraksinya yang cukup menegangkan.

Karena aksinya melakukan wheelie (mengangkat roda depan) jarak jauh, Doug digelari Wheelie King.

Namun baru pada tahun 1989, freestyle mendunia dengan munculnya bintang iklan AC.

Farias, pria yang sering menjadi bintang iklan karena talentanya di freestyle ini menjadi inspirasi bagi banyak freestyler muda.

“Ide atraksi freestyle menggunakan sepeda motor maupun sepeda ontel pada masa peperangan inilah yang mendatangkan ide bagi cyclist ontel. Bahkan, freestyler di Bandung lebih atraktif dan kaya ide,” ujar Adiguna.

Sudah empat tahun

Onthel Freestyle - photo courtesy by Pebrusani YusufMemang, dalam empat tahun belakangan ini, bersamaan dengan semakin menjamurnya pehobi sepeda ontel, muncul pula freestlyle sepeda ontel. Dari Kota Bandung sendiri, muncul sejumlah freestyler sepeda kenamaan.

Sebut saja nama-nama klub freestyler Bandung Extrem, Lucky Freestyle, Cross Extrem, dan lainnya.

Kini, ketika ada ruang terbuka, kian banyak freestyle sepeda yang beraksi.

Gaya ataupun gerakannya pun semakin bervariasi. “Ya, sesuai dengan keinginan dari pemakainya dan arti dari freestyle sendiri, yaitu gaya bebas,” tutur Cuncun (21) saat ditemui di kawasan Taman Kopo Indah.

Dikatakan Cuncun, di Kota Bandung ini, khusus untuk freestyle sepeda ontel baru dapat dihitung dengan jari. Namun, jumlah peminatnya (freestyler) cukup banyak dan masing-masing komunitas memiliki gaya ataupun ciri khas atraksi.

Presiden Indonesia Sukarno, Sepeda Onthel Freestyle

Bung Karno, freestyle dengan sepeda ontel.

Bukan hanya untuk aksi wheelie, melainkan juga back flip, for flip, dan sebagainya diperagakan dengan cantik.

Selain di kawasan Jalan Diponegoro depan Museum Geologi, freestyler sepeda ontel juga banyak mangkal di Lapangan Gasibu, Lapangan Tegallega, Balai Kota Bandung, dan Taman Kopo Indah.

“Waktu berkumpul nyaris tidak mengenal hari, biasanya kami berkumpul pada sore hari dan pada hari Minggu pagi atau sore jumlahnya lebih banyak. Apa sih yang tidak bisa di kota ini,”ujar Cuncun bangga.

Bagi cyclist di Bandung, freestyle kini bukan hanya merupakan aksi mengisi waktu luang bersepeda di kala istirahat. Akan tetapi, hal itu sudah menjadi ajang unjuk kemampuan mengikuti tren. (Sumber: PR, 16-12-2012/kempul.com)

SpedaOntel.wordpress.com

Pos ini dipublikasikan di Kisah Bersepeda. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s