Kopenhagen Denmark, Kota Ramah Sepeda dan Lingkungan

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/36/Cyclists_at_red_2.jpg/640px-Cyclists_at_red_2.jpg

Jam sibuk di Kopenhagen, di mana 36% dari perjalanan memilih untuk bersepeda

Kota Kopenhagen adalah ibu kota Denmark, sebuah negara di Eropa daerah semenanjung Skandinavia. Sebenarnya sudah sejak dulu warga kota ini bersepeda, namun dengan semakin majunya kota tersebut terjadilah peningkatan polusi dan kemacetan.

Akibat meningkatnya kawasan pusat kota yang semakin padat dan masalah polusi, banyak politisi mendorong penggunaan sepeda sebagai alat transportasi. Ibukota Denmark, Kopenhagen, dipandang sebagai panutan.

https://i1.wp.com/www.vacationstogo.com/images/ports/maps/59_w.gif

Kopenhagen, Denmark.

Papan angka digital yang terlihat pada Jalan Dronningen Luise, sebuah jembatan jalan yang menghubungkan kawasan pusat Kopenhagen dengan kawasan kota Nörrebro menunjukkan angka yang terus berubah: 7451, 7455, 7460.

Papan angka digital itu menunjukkan berapa pengendara sepeda yang sudah melewati titik tersebut.

Pukul 16.10 lalu lintas kegiatan pulang kantor dimulai. Di Kopenhagen ini terutama berarti, orang-orang naik sepeda pulang ke rumah. Kadang mereka tampak seperti untaian mutiara yang lewat, kadang tampak dalam gerombolan.

Jika lampu lintas menunjukkan warna merah, selalu tampak kerumunan dari 15, 20 pengendara sepeda yang berhenti, dan menunggu sampai lampu kembali hijau. Diantaranya Sara Pedersen.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/89/Bikecultureincopenhagen.jpg/615px-Bikecultureincopenhagen.jpg

Kultur bersepeda di Kopenhagen

Sara Pedersen, arsitek berusia 30 tahun itu setiap hari mengendarai sepedanya dari kawasan kota Kopenhagen, Österbro ke tempat kerjanya di Bella Center. Pusat konferensi terbesar di Kopenhagen. Jarak yang ditempuhnya 8 kilometer satu kali jalan.

“Di Kopenhagen ada tradisi, pergi ke kantor naik sepeda. Selain itu orang bisa menghirup udara segar, jika sehari penuh sudah harus duduk di kantor. Saya bisa merasakan kehidupan kota dan menikmati angin yang meniup wajah”, ucap Sara Pedersen.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6a/Danish_Postal_Serivces.jpg/320px-Danish_Postal_Serivces.jpg

Jasa pos di Kopenhagen menggunakan sepeda.

“Hampir semua rekan saya pergi naik sepeda, hanya sedikit yang punya mobil. Di Kopenhagen naik sepeda juga tindakan yang cerdik, karena dengan sepeda jarak tempuhnya lebih cepat!”, kata Sara Pedersen dengan bersemangat.

150 ribu warga Kopenhagen setiap hari pergi ke tempat kerja atau pendidikannya dengan sepeda. Ini meliputi 37 persen penduduk kota itu.

Dan jarak yang ditempuh pada setiap hari kerja hampir 1,2 juta kilometer. Jumlah angka luar biasa yang membawa Kopenhgaen menempati posisi puncak dalam bersepeda.

Para pelobi penggunaan sepeda dan jurnalis datang ke ibukota Denmark tersebut guna mendiskusikan masa depan kota sepeda, Konferensi Velo City 2010. Dengan tingginya jumlah warga yang bersepeda, Kopenhagen dipandang sebagai panutan internasional.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7f/Copenhagen_Cycle_Hearse.jpg/640px-Copenhagen_Cycle_Hearse.jpg

Banyaknya sepeda juga di Kopenhagen menyebabkan beberapa efek gangguan. Ini adalah salah satu dari beberapa sepeda dari sekitar 13.000 yang ditinggalkan di jalan-jalan umum di Kopenhagen setiap tahun.

Di Oksnehalle di kawasan kota Vesterbro berkumpul warga dari 59 negara, dengan satu sasaran. Membawa jiwa kota sepeda Kopenhagen ke negara asalnya. Misalnya Sandeep Arora, pengusaha becak di New Delhi atau Sung-A Kang dari Korea Selatan. Wartawati berusia 28 tahun itu datang untuk menunjukkan warganya di Seoul, bagaimana suatu hari ibukota itu dapat tampak hijau.

“Jika menyangkut budaya bersepeda, Korea masih berada di tingkat kanak-kanak. Kota-kota di sana tidak nyaman untuk pengendara sepeda. Di Korea baru dimulai membuat jalan sepeda dan mencoba menggugah masyarakat untuk menggunakan sepeda. Selama ini masih kurang berhasil. Kopenhagen adalah contoh panutan, kami dapat banyak belajar dari kota itu.”

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/01/Copenhagen_cycle_chic.jpg/480px-Copenhagen_cycle_chic.jpg

Seorang wanita bersepeda di Kopenhagen.

Kopenhagen melakukan sejumlah hal, untuk membuat nyaman para pengendara sepeda.

Hampir setiap jalan di pusat kota dan kawasan-kawasan yang berbatasan dengan pusat kota memiliki jalan sepeda di kedua jalur jalan.

Bagi jalan arteri di kawasan yang disebut Distrik Pusat Bisnis, seperti di banyak kota lainnya lampu hijau disesuaikan sedemikian rupa, bukan bagi pengendara mobil melainkan bagi pengendara sepeda.

Kawasan kota Nörrebro menjadi kawasan eksperimen. Jalan-jalan utama di sana yang melalui jembatan jalan Dronningen Luise yang menuju puat kota, ditutup untuk kendaraan biasa dan hanya boleh dilalui sepeda, bis dan taksi.

Tapi Bo Asmus Kjeldgaard, walikota urusan teknik dan lingkungan tahu, hal itu tidak sia-sia

“Untuk upaya-upaya yang mendorong penggunaan sepeda, kami mengeluarkan banyak biaya. Puluhan juta Euro per tahunnya. Tapi akhirnya hal itu bermanfaat”, ujar Bo Asmus Kjeldgaard.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a9/N%C3%B8rreport_Station_10.JPG/640px-N%C3%B8rreport_Station_10.JPG

Masalah perilaku pengendara sepeda telah dikaitkan dengan masalah kemacetan sepeda.

“Kami telah menghitung, sektor kesehatan kami teringankan secara finansial, jika masyarakat berubah dari penggunaan mobil menjadi penggunaan sepeda”, ujar Bo Asmus Kjeldgaard. Untuk setiap kilometer yang dikayuh, kami menghemat 16 cent per orang, sebaliknya setiap kilometer jalan yang dikendarai mobil kami membayar 9 cent. Bagi kami itu bisnis yang bagus, karena kami dapat menghemat pengeluaran lainnya”, ucap Bo Asmus Kjeldgaard, walikota urusan teknik dan lingkungan.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/61/Copenhagen_biketrain_collage.jpg/400px-Copenhagen_biketrain_collage.jpg

Integrasi sepeda ke kereta api S-train system di Kopenhagen.

Meski demikian tidak semua warga Kopenhagen bersedia suka rela menggunakan sepeda.

Di negara dengan pajak tinggi seperti Denmark ini, tidak hanya gaji dan konsumsi sehari-hari yang dipajak tinggi seperti di kebanyakan negara Eropa lainnya, tapi juga mobil.

Pajak tambahan untuk mobil mencapai 180 persen, yang sebelumnya sudah dikenai pajak pertambahan nilai 25 persen.

Hal ini membuat harga mobil VW Golf di Denmark kurang lebih sama dengan harga mobil Mercedes-Benz E-Class di Jerman yakni sekitar 100.000 Euro atau lebih dari 1 milyar rupiah.

Daripada membeli mobil tambahan, banyak warga Denmark lebih suka membeli sepeda. Dan kini dengan Kopenhagen sebagai kota yang ramah pengendara sepeda, mungkin penurunan pajak sekalipun tidak banyak mengubah warga pengguna sepeda untuk kembali menggunakan mobil

“Tentu saja piknik akhir pekan dengan mobil cukup praktis. Tapi itu saja tidak cukup. Saya tetap memilih tidak mengendarai mobil dan menggunakan sepeda dalam kegiatan sehari-hari”, tutup Bo Asmus Kjeldgaard, walikota urusan teknik dan lingkungan. (DW.com / Clemens Bomsdorf / Elmar Jung / Dyan Kostermans / Editor: Hendra Pasuhuk). Info lain: wikipedia Cycling in Copenhagen

-= spedaontel.wordpress.com =-

Pos ini dipublikasikan di Info dan Berita. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kopenhagen Denmark, Kota Ramah Sepeda dan Lingkungan

  1. ardiantoyugo berkata:

    asik kal di kota pada sepedaan bareng bareng gitu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s